LAPORAN
KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN
III
REAKSI-REAKSI
ESTER ALIFATIK
Oleh Kelompok 2 Biologi 2
Sofi
Caesar Triani (0704171014)
Yulia (0704171015)
Febry
Hastuti Ritonga (0704172043)
Eka
Nuryani (0704172050)
Alam
Bagus Pratama (0704172051)
PROGRAM STUDI
BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2019/2020
I.
JUDUL PERCOBAAN :
REAKSI-REAKSI ESTER ALIFATIK
II.
TUJUAN PERCOBAAN :
Mengetahui sifat kimia ester alifatik terhadap reaksi hidrolisa
III.
TINJAUAN TEORI : Senyawa
alifatik adalah senyawa organik yang
rangkaian atom-atom karbonnya terbuka atau tidak membentuk lingkar. Karena
tidak membentuk lingkar ini, senyawa-senyawa alifatik dikenal juga dengan
senyawa-senyawa asiklik. Rantai karbon senyawa alifatik ada yang mempunyai
ikatan rangkap dan ada yang tidak memiliki ikatan rangkap, ada yang bercabang
dan ada yang tidak bercabang. Berdasarkan radikal atau gugus fungsi yang
dimilikinya. Senyawa alifatik dibedakan atas hidrokarbon alifatik, alkohol
alifatik, asam karboksilat alifatik, aldehid alifatik, keton alifatik, eter
alifatik, ester alifatik, senyawa-senyawa belerang alifatik dan senyawa-senyawa
nitrogen alifatik (Sumardjo, 2009).
Esterifikasi merupakan reaksi untuk
membentuk senyawa ester. Ester-ester organik banyak digunakan di industri yitu
sebagai solven, bahan parfum, bahan aroma buatan dan prekursor bahan-bahan
farmasi. Salah satu senyawa ester yang banya dipakai dalam industri adalah amil
asetat. Amil asetat merupakan salah satusester yang memiliki rumus kimia CH3COOC5H11. Ester ini
banyak digunakan sebagai solven dalam industri pembuatan sesulosa nitrat. Amil
asetat dapat direaksi dengan asam asetat dengan amil alkohol.
Reaksi esterifikasi merupakan senyawa
yang berjalan lambat sehingga membutuhkan katalis untuk menunjunang kecepatan
reaksi. Maka dari itu banyak penelitian dilakukan untuk mempelajari kinetika
reaksi, baik dengan katalis homogen maupun heterogen. Katalis homogen yang
biasa digunakan indutsri adalah asam sulfat. Ion positif H+ dari
asam sulfat sebagai asam kuat mendorong asam karbokdsilat untuk terpotonasi
sehingga reaksi dapat terjadi. Oleh karen aitu, asam sulfat memiliki aktivitas
yang lebih tinggi dibandingkan dengan katalis heterogen seperti resin atau
zeolit (Fakry dan Rahayu, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi produk
metil ester yang dihasilkan diproses esterifikasi, diantaranya adalah
perbandingan (rasio) molar reaktan dan waktu reaksi esterifikasi yang
digunakan. Reaksi esterifikasi asam burat menjadi metil esternyamerupakan
reaksi ayg bersifat reversibel. Sehingga gasil reaksi tidak selalu mengikuti.
Perhitungan stoikiometrinya. Rasio molar yang tepat akan memberikan kondisi
optimum dalam reaksi esterifikasi sehingga perolehan profuk dalam jumlah
maksimum dan mengurangi kemungkinan bahan berlebihan yang tidak bereaski (Mappinatu dan Razak, 2015).
Prinsip dari metode refluks adalah
pelarut yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan
dengan kondensor sehingga pelarut yang terjdinya dalam bentuk uap akan
mengembun pada kondensor dan turuhn lagi kewadah rekasi sehinga pelarut tetap
akan ada selama reaksi berlangsung (Susanti
dan Bachmid, 2016).
IV.
ALAT DAN BAHAN
A.
ALAT
NO.
|
NAMA
ALAT
|
UKURAN
|
JUMLAH
|
1.
|
Refluks
|
-
|
1 buah
|
2.
|
Pipet Tetes
|
-
|
1 buah
|
3.
|
Penangas Listrik
|
-
|
1 buah
|
4.
|
Labu Destilasi
|
-
|
1 buah
|
5.
|
Gelas Ukur
|
50 mL
|
1 buah
|
6.
|
Beaker Glass
|
50 mL
|
1 buah
|
7.
|
Corong
|
-
|
1 buah
|
8.
|
Termometer
|
2000C
|
1 buah
|
B.
BAHAN
NO.
|
NAMA
BAHAN
|
RUMUS
|
M
|
WUJUD
|
WARNA
|
JLH
|
1.
|
n-butil asetat
|
C6H12O6
|
-
|
Cair
|
Bening
|
5 mL
|
2.
|
Natrium Hidroksida
|
NaOH
|
-
|
Cair
|
Bening
|
50 mL
|
3.
|
Kalium Karbonat
|
K2CO3
|
-
|
Padat
|
Putih
|
Secukupnya
|
4.
|
Asam Sulfat
|
H2SO4
|
-
|
Cair
|
Bening
|
Secukupnya
|
5.
|
Lakmus
|
-
|
-
|
-
|
-
|
1 buah
|
6.
|
Vaselin
|
-
|
-
|
Padat
|
Putih
|
Secukupnya
|
V.
PROSEDUR KERJA
(Hidrolisis (Safonifikasi) n-butil )
2. Dididihkan dengan menggunakan refluks selama ±1 jam
3. Didestilasi larutan yang terjadi, diambil 10
ml destilat pertama
4. Dijenuhkan
destilat tersebut dengan potassium karbonat, kemudian
dibiarkan selama 5
menit
5. Dipindahkan
semua cairan kepipet tetes
6. Dimasukkan
lapisan bawah (larutan karbonat) kedalam tabung reaksi, dan lapisan atas ke
tabung reaksi lain.
7. Dikeringkan
alkohol yang terjadi dengan K2CO3 anhidrous
8. Diambil
cairan alkohol dengan menggunakan pipet tetes, kemudian ditentukan titik didihnya
9. Diasamkan
residu dalam labu dengan H2SO4
10. Didestilasi
10 – 15 menit larutan tersebut
11.Diuji
keasaman destilat yang diperoleh dan dicatat baunya
Hasil :
n-butil
asetat + NaOH warna awalnya bening. Setelah direfluks warnanya berubah menjadi
kuning pekat, baunya sangat menyengat. Pada saat didestilasi larutan menetes
pada suhu 100°C sampai 10 ml. Pada menit ke 25, setelah ditambahkn H2SO4,
warnanya berubah menjadi putih bening dan terdapat endapan, baunya sepeti bau
buah pir.
VI.
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
No
|
Percobaan
|
Hasil
pengamatan
|
1
|
5 gr n- butil asetat + 50 mL NaOH 10 %
|
Larutan menghasilkan warna kuning
pekat dan baunya menyengat.
|
2
|
Destilasi larutan
|
Dihasilkan larutan sebanyak 10 mL
|
3
|
Diberi K2CO3
|
Membentuk cairan putih keruh
|
4
|
Diberi H2SO4
|
Membentuk endapan berwarna putih, ph =
13 dan baunya seperti buah pir
|
B.
Reaksi-Reaksi
1.
C6H12O2 + NaOH Larutan warna kuning pekat
2.
C6H12O2 + NaOH + K2CO3 Cairan putih keruh
3.
C6H12O2 + NaOH + K2CO3
+ H2SO4 Endapan putih, bau buah pir
VII.
PEMBAHASAN
Secara Teori
Ester
merupakan kelompok senyawa organikyang memiliki rumus R-COOH . reaksi
hidrolisis ester dalam suasana asam menghasilkan asam karbosilat dan alkohol.
Namun bila dihisrolisis secara basa maka akan diperoleh asam karbosilat dan
alkohol. Refluks merupakan suatu metode untuk mencampurkan dua zat atau
senyawa. Reduksi dengan kondensor sehingga cairan yang diuapkan akan mengembun
kembali dan cairan yang sudah di refluks kemudia didestilasi untuk memperoleh
hasil memperoleh hal ini murni dari ester tersebut berupa destilat. Adapun fungsi
K2CO3 untuk menjenuhkan destilat. Ester-ester organik
yang banyak digunakan didunia farmasi yaitu sebagai solven, bahan farfume dan
lain-lain. Perubahan warna setelah direfluks pada suhu tertentu akan
menghasilkan warna kuning pekat dan berbau seperti parfum atau wangi buah dan
bunga. Selesai didestilasi dan ditambahkan H2SO4 warnanya akan menjadi
bening atau tidak bewarna dan menghasilkan bau buah dan parfum.
Secara Praktikum
Berdasarkan
hasil praktikum yang telah dilakukan dapat dijelaskan bahwa: Ester yang
digunakan yaitu butil asetat yang biasa digunakan sebagai pereaksi ester yaitu
natrium hidroksida (NaOH). Pada saat
larutan butil asetat dicampurkan dengan natrium hidroksida menghasilkan bening. Kemudian hasil campuran ini direfluks dengan
campuran tersebut dengan pemanasan tanpa
ada senyawa yang hilang dari larutan
tersebut. Selanjutnya larutan yang sudah direfluks dilakukan destilasi untuk
memperoleh destilat. Destilasi diperoleh pada suhu 100 derajat celcius dalam
waktu 1 jam yang menghasilkan warna warna kuning pekat dan beraroma sangat
menyengat. Kemudian pada saat suhu 100 derajat celcius larutan menetes hingga
10mL pada waktu 25 menit lalu ditmbahkan dengn
H2SO4 warnanya akan menjadi bening atau tidak
bewarna dan menghasilkan bau buah dan parfum. Hal ini merupakan hasil positif
dari ester sehingga teori dan praktikum sesuai.
VIII.
KESIMPULAN
Ester
merupakan senyawa turunan asam karbosilat dan senyawa yang bersifat netral.
Biasany ester mengalami reaksi kimia digugus altoksi (-OR) digantikan oleh
gugus yang lain. Hidroksi dipercepat dengan adanya asam atau basa. Hidrolisis
dalam suasana asam merupakan kebalikan dari esterfikasi , ester direfluks
dengan air berlebih yang mengandung katalis asam yang kuat. Reaksi yang terjadi
merupakan reaksi keseimbangan sehingga reaksi tidak pernah berhenti.
PERTANYAAN
1. Apakah fungsi dan penambahan potasium
karbonat dalam percobaan diatas?
Jawab:
untuk menjaga keseimbangan larutan dan juga memecah dan memanfaatkan karbonat.
2. Bagaimanakah menentukan titik didih
cairan apabila jumlahnya sangat sedikit? (± 5ml saja).
Jawab
: dengan menambahkan zat-zat (batu didih ) karena dimana semakin banyak zat
yang digunakan semakin lambat proses pendidikan sehingga titik didihnya
meningkat.
3. Tuliskan persamaan reaksi esterifikasi
dari asam karboksilat dan alkohol!
Jawab
:
·
R COH +
R OH R4 COR + H2O
Karboksilat
4. Selain dari asam karboksilat, dengan
pereaksi apalagi esterifikasi dapat dilakukan ?
Jawab
: reaksi asam asetat, etanol, natrium hidroksida, asam sulfat, alkohol dan
kalium karbonat.
5. Mengapa ester dapat digolongkan sebagai
derivate asam karboksilat
Jawab:
karena ester mempunyai gugus fungsi alil ( R CO2) atau aroil (
Arco-) dan bila hidrolisis menghasilkan asam karboksilat.
6. Tuliskan mekanisme reaksi hidrolsis n.
Butil asetat yang dilakukan dalam percobaan ini ?
Jawab
: mekanismenya melalui proses refluks selama 1 jam dan menghasilkan larutan
berwarna kuning pekat dan aroma seperti
buah pir
DAFTAR PUSTAKA
Fakhry, Muhammad dan Supri Hastuti.
2016. Pengaruh Suhu Pada Esferifikasi Amil
Alkohol dengan Asam Asetat Menggunakan Asam Sulfat Sebagai Kalisator.
Jurnal Rekayasa Proses. Vol 10 (2)
Mapparatu dan Zafar. 2015. Optimasi Reaksi Esterifikasi Asam Lauratan Dengan
Menggunakan Atalis Asam Sulfat Pekat
(Optimizaration Lauric Acid Esterification Reaction With Methanol Of
Natural Concentrate Sulfuric Acid Catalysts). Online Jurnal Of Natural
Science. Vol 4 (1), 46-55.
Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar
Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran Dan Program Strata 1
Fakultas Bioeksakta. Jakarta : egc
Susanti dan Fairus Bachmad. 2016. Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi Dan Refluks
Terhadap Kadar Fenolik Dari Ekstrak Tongkol Jagung (Zea MaysL.)Konveksi.
Vol (5) (2).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar