Jumat, 03 Januari 2020

Laporan Praktikum Reaksi-Reaksi Ester Alifatik


LAPORAN KIMIA ORGANIK


PERCOBAAN III
REAKSI-REAKSI ESTER ALIFATIK


 Hasil gambar untuk SIMBOL UINSU
   
Oleh Kelompok 2 Biologi 2

 Masdingin Naipospos           (0704171011)
Sofi Caesar Triani                  (0704171014)
Yulia                                           (0704171015)
Febry Hastuti Ritonga           (0704172043)
Eka Nuryani                             (0704172050)
Alam Bagus Pratama             (0704172051)



PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2019/2020






I.         JUDUL PERCOBAAN           : REAKSI-REAKSI ESTER ALIFATIK

II.      TUJUAN PERCOBAAN   : Mengetahui sifat kimia ester alifatik           terhadap reaksi hidrolisa

III.   TINJAUAN TEORI                : Senyawa alifatik adalah senyawa organik yang rangkaian atom-atom karbonnya terbuka atau tidak membentuk lingkar. Karena tidak membentuk lingkar ini, senyawa-senyawa alifatik dikenal juga dengan senyawa-senyawa asiklik. Rantai karbon senyawa alifatik ada yang mempunyai ikatan rangkap dan ada yang tidak memiliki ikatan rangkap, ada yang bercabang dan ada yang tidak bercabang. Berdasarkan radikal atau gugus fungsi yang dimilikinya. Senyawa alifatik dibedakan atas hidrokarbon alifatik, alkohol alifatik, asam karboksilat alifatik, aldehid alifatik, keton alifatik, eter alifatik, ester alifatik, senyawa-senyawa belerang alifatik dan senyawa-senyawa nitrogen alifatik (Sumardjo, 2009).
Esterifikasi merupakan reaksi untuk membentuk senyawa ester. Ester-ester organik banyak digunakan di industri yitu sebagai solven, bahan parfum, bahan aroma buatan dan prekursor bahan-bahan farmasi. Salah satu senyawa ester yang banya dipakai dalam industri adalah amil asetat. Amil asetat merupakan salah satusester yang memiliki rumus kimia CH3COOC5H11. Ester ini banyak digunakan sebagai solven dalam industri pembuatan sesulosa nitrat. Amil asetat dapat direaksi dengan asam asetat dengan amil alkohol.
Reaksi esterifikasi merupakan senyawa yang berjalan lambat sehingga membutuhkan katalis untuk menunjunang kecepatan reaksi. Maka dari itu banyak penelitian dilakukan untuk mempelajari kinetika reaksi, baik dengan katalis homogen maupun heterogen. Katalis homogen yang biasa digunakan indutsri adalah asam sulfat. Ion positif H+ dari asam sulfat sebagai asam kuat mendorong asam karbokdsilat untuk terpotonasi sehingga reaksi dapat terjadi. Oleh karen aitu, asam sulfat memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan katalis heterogen seperti resin atau zeolit (Fakry dan Rahayu, 2016). 
Faktor-faktor yang mempengaruhi produk metil ester yang dihasilkan diproses esterifikasi, diantaranya adalah perbandingan (rasio) molar reaktan dan waktu reaksi esterifikasi yang digunakan. Reaksi esterifikasi asam burat menjadi metil esternyamerupakan reaksi ayg bersifat reversibel. Sehingga gasil reaksi tidak selalu mengikuti. Perhitungan stoikiometrinya. Rasio molar yang tepat akan memberikan kondisi optimum dalam reaksi esterifikasi sehingga perolehan profuk dalam jumlah maksimum dan mengurangi kemungkinan bahan berlebihan yang tidak bereaski (Mappinatu dan Razak, 2015).
Prinsip dari metode refluks adalah pelarut yang digunakan akan menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan dengan kondensor sehingga pelarut yang terjdinya dalam bentuk uap akan mengembun pada kondensor dan turuhn lagi kewadah rekasi sehinga pelarut tetap akan ada selama reaksi berlangsung (Susanti dan Bachmid, 2016).

IV.   ALAT DAN BAHAN
A.  ALAT
NO.
NAMA ALAT
UKURAN
JUMLAH
1.
Refluks
-
1 buah
2.
Pipet Tetes
-
1 buah
3.
Penangas Listrik
-
1 buah
4.
Labu Destilasi
-
1 buah
5.
Gelas Ukur
50 mL
1 buah
6.
Beaker Glass
50 mL
1 buah
7.
Corong
-
1 buah
8.
Termometer
2000C
1 buah


B.     BAHAN
NO.
NAMA BAHAN
RUMUS
M
WUJUD
WARNA
JLH
1.
n-butil asetat
C6H12O6
-
Cair
Bening
5 mL
2.
Natrium Hidroksida
NaOH
-
Cair
Bening
50 mL
3.
Kalium Karbonat
K2CO3
-
Padat
Putih
Secukupnya
4.
Asam Sulfat
H2SO4
-
Cair
Bening
Secukupnya
5.
Lakmus
-
-
-
-
1 buah
6.
Vaselin
-
-
Padat
Putih
Secukupnya



V.      PROSEDUR KERJA
(Hidrolisis (Safonifikasi) n-butil )
        
1. Dicampurkan 4 – 5 gr n butil asetat             dengan 50 ml NaOH 10%


       2. Dididihkan dengan menggunakan                   refluks selama ±1 jam

        3. Didestilasi larutan yang terjadi,                         diambil 10 ml destilat pertama 

       4. Dijenuhkan destilat tersebut dengan               potassium karbonat, kemudian 
           dibiarkan selama 5 menit

      5. Dipindahkan semua cairan kepipet                  tetes

      6. Dimasukkan lapisan bawah (larutan                karbonat) kedalam tabung reaksi, dan            lapisan atas ke tabung reaksi lain.

     7. Dikeringkan alkohol yang terjadi                     dengan K2CO3 anhidrous

     8. Diambil cairan alkohol dengan                         menggunakan pipet tetes, kemudian               ditentukan titik didihnya

    9. Diasamkan residu dalam labu dengan            H2SO4

   10. Didestilasi 10 – 15 menit larutan                        tersebut

  11.Diuji keasaman destilat yang diperoleh           dan dicatat baunya

Hasil :
n-butil asetat + NaOH warna awalnya bening. Setelah direfluks warnanya berubah menjadi kuning pekat, baunya sangat menyengat. Pada saat didestilasi larutan menetes pada suhu 100°C sampai 10 ml. Pada menit ke 25, setelah ditambahkn H2SO4, warnanya berubah menjadi putih bening dan terdapat endapan, baunya sepeti bau buah pir. 

                   


VI.   HASIL PENGAMATAN 
    A. Tabel Pengamatan

No
Percobaan
Hasil pengamatan
1
5 gr n- butil asetat + 50 mL NaOH 10 %
Larutan menghasilkan warna kuning pekat dan baunya menyengat.
2
Destilasi larutan
Dihasilkan larutan sebanyak 10 mL
3
Diberi K2CO3
Membentuk cairan putih keruh
4
Diberi H2SO4
Membentuk endapan berwarna putih, ph = 13 dan baunya seperti buah pir











 
             B.     Reaksi-Reaksi

1.    C6H12O2        +  NaOH                           Larutan warna kuning pekat
2.    C6H12O2 + NaOH + K2CO3                      Cairan putih keruh
3.    C6H12O2 + NaOH + K2CO3 + H2SO4                   Endapan putih, bau buah pir

VII.     PEMBAHASAN
Secara Teori
Ester merupakan kelompok senyawa organikyang memiliki rumus R-COOH . reaksi hidrolisis ester dalam suasana asam menghasilkan asam karbosilat dan alkohol. Namun bila dihisrolisis secara basa maka akan diperoleh asam karbosilat dan alkohol. Refluks merupakan suatu metode untuk mencampurkan dua zat atau senyawa. Reduksi dengan kondensor sehingga cairan yang diuapkan akan mengembun kembali dan cairan yang sudah di refluks kemudia didestilasi untuk memperoleh hasil memperoleh hal ini murni dari ester tersebut berupa destilat. Adapun fungsi K2CO3 untuk menjenuhkan destilat. Ester-ester organik yang banyak digunakan didunia farmasi yaitu sebagai solven, bahan farfume dan lain-lain. Perubahan warna setelah direfluks pada suhu tertentu akan menghasilkan warna kuning pekat dan berbau seperti parfum atau wangi buah dan bunga. Selesai didestilasi dan ditambahkan H2SO4 warnanya akan menjadi bening atau tidak bewarna dan menghasilkan bau buah dan parfum.

Secara Praktikum
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat dijelaskan bahwa: Ester yang digunakan yaitu butil asetat yang biasa digunakan sebagai pereaksi ester yaitu natrium hidroksida (NaOH).  Pada saat larutan butil asetat dicampurkan dengan natrium hidroksida menghasilkan bening.  Kemudian hasil campuran ini direfluks dengan campuran tersebut  dengan pemanasan tanpa ada senyawa  yang hilang dari larutan tersebut. Selanjutnya larutan yang sudah direfluks dilakukan destilasi untuk memperoleh destilat. Destilasi diperoleh pada suhu 100 derajat celcius dalam waktu 1 jam yang menghasilkan warna warna kuning pekat dan beraroma sangat menyengat. Kemudian pada saat suhu 100 derajat celcius larutan menetes hingga 10mL pada waktu 25 menit lalu ditmbahkan dengn  H2SO4 warnanya akan menjadi bening atau tidak bewarna dan menghasilkan bau buah dan parfum. Hal ini merupakan hasil positif dari ester sehingga teori dan praktikum sesuai.


VIII.       KESIMPULAN
Ester merupakan senyawa turunan asam karbosilat dan senyawa yang bersifat netral. Biasany ester mengalami reaksi kimia digugus altoksi (-OR) digantikan oleh gugus yang lain. Hidroksi dipercepat dengan adanya asam atau basa. Hidrolisis dalam suasana asam merupakan kebalikan dari esterfikasi , ester direfluks dengan air berlebih yang mengandung katalis asam yang kuat. Reaksi yang terjadi merupakan reaksi keseimbangan sehingga reaksi tidak pernah berhenti.





PERTANYAAN
      1.      Apakah fungsi dan penambahan potasium karbonat dalam percobaan diatas?
      Jawab: untuk menjaga keseimbangan larutan dan juga memecah dan memanfaatkan karbonat.

      2.    Bagaimanakah menentukan titik didih cairan apabila jumlahnya sangat sedikit? (± 5ml saja).
     Jawab : dengan menambahkan zat-zat (batu didih ) karena dimana semakin banyak zat yang                 digunakan semakin lambat proses pendidikan sehingga titik didihnya meningkat.

      3.   Tuliskan persamaan reaksi esterifikasi dari asam karboksilat dan alkohol!
     Jawab :
·          R COH                       + R OH                       R4 COR + H2O
Asam                           alkohol                        ester
Karboksilat

      4.    Selain dari asam karboksilat, dengan pereaksi apalagi esterifikasi dapat dilakukan ?
     Jawab : reaksi asam asetat, etanol, natrium hidroksida, asam sulfat, alkohol dan kalium karbonat.

      5.    Mengapa ester dapat digolongkan sebagai derivate asam karboksilat
     Jawab: karena ester mempunyai gugus fungsi alil ( R CO2) atau aroil ( Arco-) dan bila hidrolisis          menghasilkan asam karboksilat.

      6.   Tuliskan mekanisme reaksi hidrolsis n. Butil asetat yang dilakukan dalam percobaan ini ?
    Jawab : mekanismenya melalui proses refluks selama 1 jam dan menghasilkan larutan berwarna          kuning pekat  dan aroma seperti buah pir





DAFTAR PUSTAKA

Fakhry, Muhammad dan Supri Hastuti. 2016. Pengaruh Suhu Pada Esferifikasi Amil Alkohol dengan Asam Asetat Menggunakan Asam Sulfat Sebagai Kalisator. Jurnal Rekayasa Proses. Vol 10 (2)
Mapparatu dan Zafar. 2015. Optimasi Reaksi Esterifikasi Asam Lauratan Dengan Menggunakan Atalis Asam Sulfat Pekat  (Optimizaration Lauric Acid Esterification Reaction With Methanol Of Natural Concentrate Sulfuric Acid Catalysts). Online Jurnal Of Natural Science. Vol 4 (1), 46-55.
Sumardjo, Damin. 2009.  Pengantar Kimia : Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran Dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta : egc
Susanti dan Fairus Bachmad. 2016. Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi Dan Refluks Terhadap Kadar Fenolik Dari Ekstrak Tongkol Jagung (Zea MaysL.)Konveksi. Vol (5) (2).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Pindah Silang

PINDAH SILANG DOSEN PENGAMPU : ZAHRATUL IDAMI, S.Kel,M.Sc DISUSUN OLEH :                MASDINGIN NAIPOSPOS             ...