Kamis, 09 Januari 2020

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK-SIFAT FISIK KIMIA ORGANIK



LAPORAN KIMIA ORGANIK

PERCOBAAN IV
SIFAT-SIFAT FISIK KIMIA ORGANIK










Oleh Kelompok 2 Biologi 2

Masdingin Naipospos                        (0704171011)
Sofi Caesar Triani                             (0704171014)
Yulia                                                   (0704171015)
Febry Hastuti Ritonga                      (0704172043)
Eka Nuryani                                      (0704172050)
Alam Bagus Pratama                        (0704172051)



PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A 2019/2020



I.              JUDUL : SIFAT-SIFAT FISIK KIMIA ORGANIK

II.           TUJUAN PERCOBAAN       : Untuk mengetahui titik didih, titik leleh, densitas, indeks bias dan kelarutan (Solubilitas) senyawa organik.

III.        Tinjauan Teoritis         :  Sifat fisik merupakan sifat yang dibahas secara langsung, seperti wujud, bau, warna, kekerasan, dan sifat kelarutan.  Wujud zat pada suhu tertentu, dapat dilihat dari titik leleh dan titik didihnya.  Misalnya, komposisi air (H, O) memiliki titik leleh 0 ° C dan titik didih 100 ° C.  Oleh karena itu, pada suhu ruangan (dihitung 25 ° C), Anda akan menjumpai udara dalam bentuk cairan.  Pada zat yang berada pada suhu di bawah titik lelehnya (pada tekanan tetap), akan berwujud padat pada suhu tersebut.  Jika berada pada titik di antara titik leleh dan titik didihnya, zat itu akan berwujud cair.  Pada suhu di atas titik didihnya, zat itu akan berada dalam bentuk gas.  Untuk mengetahui komposisi senyawa benzena dan turunannya pada suhu ruangan, mengumpulkan data titik leleh dan titik didih komposisi-komposisi tersebut . 1. sifat fisik: yaitu sifat-sifat yang timbul karena keadaan fisik bahan.  Beberapa contoh dari ciri fisik ini adalah bentuk, ukuran, densitas, viskositas, sifat pengemulsi, ketahanan, nilai enersi, kemampuan membentuk gel, dan lain-lain (Achadiyah, 2017).
Penentuan sifat fisik dari suatu senyawa kimia sangat penting untuk berbagai keperluan seperti karakterisasi senyawa atau membantu dalam hal penggunaan teknis di laboratorium. Nilai sifat fisik pada awalnya harus ditentukan secara eksperimen terhadap senyawa tersebut. Perkembangan lebih lanjut ditemukan pengetahuan bahwa nilai sifat fisik suatu senyawa dapat diprediksikan dengan menggunakan beberapa macam pendekatan. Pada prinsipnya rumus struktur molekul dari setiap senyawa kimia mengandung gambaran yang mencerminkan informasi tentang sifat kimia, sifat fisika atau aktivitas biologi dari senyawa tersebut. Rumus struktur dapat menetapkan gambaran sifat dan aktivitas senyawa secara tidak langsung, seperti kecepatan oksidasi senyawa, konstanta kesetimbangan, kecepatan adsorbsi pada beberapa permukaan, derajat yang menghalangi formasi karat dalam air laut pada kondisi yang ditetapkan dan juga untuk sifat-sifat fisika antara lain titik didih, titik leleh dan kerapatan (Tahir dkk, 2002).
Indeks bias suatu zat merupakan ukuran kelajuan cahaya di dalam zat cair dibanding ketika di udara (Murdaka et al., 2010). Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis yang penting dari medium. Dalam bidang kimia, pengukuran terhadap indeks bias secara luas telah digunakan antara lain untuk mengetahui konsentrasi larutan (Subedi et al., 2006) dan mengetahui komposisi bahan-bahan penyusun larutan. Indeks bias juga dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu larutan. Penelitian yang dilakukan oleh Yunus  et al. (2009) menunjukkan bahwa indeks bias dapat digunakan untuk menentukan kemurnian dan kadaluarsa dari oli. Sedangkan penelitian yang dilakukan Sutiah et al. (2008) menunjukkan bahwa indeks bias dapat digunakan untuk menentukan kemurnian minyak goreng.
Indeks bias menyatakan perbandingan (rasio) antara kelajuan cahaya di ruang hampa terhadap kelajuan cahaya di dalam bahan. Cepat rambat gelombang cahaya di ruang hampa sebesar c. Jika melalui suatu medium maka cahaya tersebut akan mengalami perubahan kecepatan menjadi v, dimana besarnya v jauh lebih kecil dibandingkan cepat rambang cahaya di ruang hampa c. Ketika cahaya merambat di dalam suatu bahan, kelajuannya akan turun sebesar suatu faktor yang ditentukan oleh karakteristik bahan yang dinamakan indeks bias (n). Pernyataan tersebut dapat dituliskan dalam persamaan berikut: 
(1)   n = Indeks Bias
(2)   c = laju cahaya dalam ruang hampa ( 3 x 108 m/s)
(3)    v = kecepatan laju cahaya dalam medium (Zamroni, 2013).


IV.        Alat dan Bahan

A.    Alat
No.
Nama Alat
Ukuran
Jumlah
1.
Melting Point Block
-
1 buah
2.
Destilator Sederhana
-
-
3.
Piknometer
-
1 buah
4.
Refletometer
-
1 buah
5.
Pipet Tetes
-
2 buah

B.     Bahan
No.
Nama Bahan
R.Kimia
Konsentrasi
Wujud
Warna
Jumlah
1.
Sampel zat organik
C3H6O3
-
Cair
Bening
Secukupnya
2.
Aquadest
H2O
-
Cair
Bening
Secukupnya
3.
Asam Benzoat
C7H6O3
-
Padat
Putih
Secukupnya
4.
Urea
CH4H12O6
-
Padat
Keruh
Secukupnya
5.
Glukosa
C6H12O6
-
Cair
Keruh
Secukupnya
6.
Fruktosa
C6H12O6
-
Cair
Keruh
Secukupnya
7.
Sukrosa
C12H22011
-
Cair
Keruh
Secukupnya
8.
Asam Sasilat
C7H6O3
-
Padat
Putih
Secukupnya

V.                Prosedur Kerja
    1.      Penentuan titik leleh


                                        1.Dikalibrasi senyawa yang sudah tersedia

                2. Dikalibrasi kembali dengan 2 senyawa standar yang titik lelehnya     berdekatan dengan titik leleh senyawa yang diamati



Text Box: Hasil :
1. Urea, titik leleh = 125℃
2. Asam salisilat, titik leleh = 155℃
3. Asam benzoat, titik leleh = 130℃
                                                                                                
    2.      Text Box: Piknometer Penetapan Densitas
                           1.Ditimbang dengan teliti

                           2. Diisi dengan sampel yang akan diamati
   3.Dimasukkan tutup kapiler sampai pada tanda yang telah diberikan
Text Box: Hasil :
1. Sukrosa + piknometer = 24, 31
2. Fruktosa + piknometer = 24, 40
3. Glukosa + piknometer = 24, 40
4. Akuades + piknometer = 24, 01
5. Piknometer = 15, 64 gr

                           4.Dikeringkan dan timbang piknometer yang telah digunakan




3.     


   

   
P  3. Penetapan indeks bias
1.Ditentukan indeks bias air dan beebrapa sampel organik sesuai petunjuk instruktur
2.Diletakkan sampel diatas lensa
Text Box: Hasil :
1. Sukrosa, indeks bias = 1097, 2
2. Fruktosa, indeks bias = 1015, 05
3. Glukosa, indeks bias = 1027,162
4. Akuades, indeks bias = 1002, 001

3.Dilihat indeks bias pada sampel tersebut













1.        TABEL HASIL PERCOBAAN
NO
PERLAKUAN
HASIL PENGAMATAN
1
Penentuan titik leleh
·         Dimasukkan senyawa urea, asam salisilat dan asam benzoat kedalam pipet kapiler.
·         Dimasukkan pipet kapiler yang telah diisi sampel, kedalam melting point block.
·         Diamati titik lelehnya.
·         Senyawa urea  125 ◦C
·         Senyawa asam salisilat 155◦C
·         Senyawa asam benzoat 130 130◦C

2
Penetapan densitas
·         Ditimbang piknometer kosong.
·         Ditimbang piknometer kosong + sukrosa
·         Ditimbang piknometer + fruktosa
·         Ditimbang piknometer + glikosa
·         Ditimbang piknometer + aquades.
·         Sukrosa + piknometer = 24,31gr
·         Fruktosa + piknometer = 24,40gr
·         Glukosa+ piknometer =25,61gr
·         Aquades+piknometer=24,01
3
Penentuan indeks bias
·         Pada ujung refraktometer ditetesi air, ditutup, kemudian dilihat  Su dan Sn pada tempat bercahaya.
·         Lakukan hal yang sama pada sampel fruktosa, sukrosa, glikosa, dan aquades
·         Sukrosa+indeks bias=1097,2
·         Fruktosa+indek bias=1015,05
·         Glukosa+indeks bias=1027,162
·         Aquades+indeks bias=1002,001




VI.        Pembahasan
1.    Penentuan Titik Leleh
a.       Urea
            Berdasarkan teori, dapat dijelaskan bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada urea akan meleleh pad suhu 133℃.
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur titik leleh dimana senyawa urea akan dikalibrasi dengan senyawa standar yang nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik leleh yang dilakukan 125℃.
            Hal ini berbeda hasil teori dan praktikan, dimana hasil praktik lebih rendah dibandingkan hasil teori. Hal ini disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum. Hal ini juga menadakan bahwa zat tersebut sudah tidak murni serta pemanasan suhu yang tinggi dan tidak bertahap sehingga hasil tidaklah valid.
a.       Asam salisilat
            Berdasarkan teori, dapat dijelaskan bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada asam salisilat akan meleleh pada suhu 191℃.
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur titik leleh dimana senyawa asam salisilat akan dikalibrasi dengan senyawa standar yang nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik leleh yang dilakukan 155℃.
            Hal ini berbeda hasil teori dan praktikan, dimana hasil praktik lebih rendah dibandingkan hasil teori. Hal ini disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum. Hal ini juga menadakan bahwa zat tersebut sudah tidak murni serta pemanasan suhu yang tinggi dan tidak bertahap sehingga hasil tidaklah valid.
b.      Asam benzoat
            Berdasarkan teori, dapat dijelaskan bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada asam benzoat akan meleleh pada suhu 122℃.
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur titik leleh dimana senyawa asam benzoat akan dikalibrasi dengan senyawa standar yang nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik leleh yang dilakukan 130℃.
            Hal ini berbeda hasil teori dan praktikan, dimana hasil praktik lebih tinggi dibandingkan hasil teori. Hal ini disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum. Hal ini juga menadakan bahwa zat ini positif mengalami titik leleh.
2.      Penetapan Densitas
            Beradasarkan teori densitas adalah suatu besaran kerapatan massa benda yang dinyatakan dalam berat benda per satuan volume benda tersebut.
Rumus densitas   + 0,0012

Keterangan :
G = massa piknometer sesudah dimasukkan ke aquadest
G0 = massa piknometer sebelum dimasukkan aquadest atau sampel (kosong)
Vt = volume piknometer yaitu 10


a.       Pada larutan fruktosa
 + 0,0012
=  + 0,0012
= 24,40 g/cm³
b.      Pada larutan sukrosa
 + 0,0012
=  + 0,0012
= 24,031g/cm³

c.       Pada larutan glukosa
 + 0,0012
=  + 0,0012
= 24,04 g/cm³

d.      Pada akuades
 + 0,0012
=  + 0,0012
= 24,041 g/cm³
            Secara teori densitas pada sukrosa 1,59 gram. Densitas pada fruktosa 1,69 gram. Densitas pada glukosa 1,56 gram. Densitas pada aquades 0,09797 gram. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada larutan sukrosa, fruktosa, glukosa dan aquadesdengan menggunakan piknometer dapat dijlaskan bahwa:

3.        Penetapan Indeks Bias
            Berdasarkan teori indeks bias suatu zat merupakan ukuran kelajuan cahaya di dalam zat cair dibanding ketika di udara . Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis yang penting dari medium. Dalam bidang kimia, pengukuran terhadap indeks bias secara luas telah digunakan antara lain untuk mengetahui konsentrasi larutan.
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dengan menggunakan rafraktometer yang diatas lensanya diberi larutan sukrosa yaitu didapatkan hail 1097,2 pada larutan fruktosa 1015,05 pada larutan glukosa 1027, 162 dan pada larutan akuades 1002,001.


VII.   Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai ttik leleh pada urea adalah 1250, pada asam salisilat 1550 dan pada asam benzoat 1300
Pada percobaan densitas piknometer yang diberi larutan sukrosa dididapatkan hasil 24, 31 g/ml, pada piknometer yang diberi larutan fruktosa  didapatkan hasil 24,40 g/ml, pada piknometer yang diberi larutan glukosa didapatkan hasil 24,04 g/ml dan pada piknometer yang diberi akuades didapatkan hasil 24,01 g/ml.
Pada percobaan indeks bias menggunakan refraktometer yang memperoleh hasil fruktosa 1015, 05, sukrosa 1097, 2, glukosa 1027, 16, dan akuades 1002, 001.


Daftar Pustaka
Tahir, Iqmal, Karna Wijaya dan M.Utoro Yahya. 2002. Hubungan Kuantitatif antara Struktur Molekul dan Titik Leleh dari Berbagai Senyawa Organik. Indonesian Journal of Chemistry. 2(2) : 83-90
Zamroni, Ahmad, 2013. Pengukuran Indeks Bias Zat Cair Melalui Metode Pembiasan Menggunakan Plan Paralel. Jurnal Fisika. Vol.3 No.2




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Makalah Pindah Silang

PINDAH SILANG DOSEN PENGAMPU : ZAHRATUL IDAMI, S.Kel,M.Sc DISUSUN OLEH :                MASDINGIN NAIPOSPOS             ...