LAPORAN
KIMIA ORGANIK
PERCOBAAN
IV
SIFAT-SIFAT
FISIK KIMIA ORGANIK
Oleh
Kelompok 2 Biologi 2
Masdingin
Naipospos (0704171011)
Sofi
Caesar Triani (0704171014)
Yulia
(0704171015)
Febry
Hastuti Ritonga (0704172043)
Eka
Nuryani (0704172050)
Alam
Bagus Pratama
(0704172051)
PROGRAM
STUDI BIOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
T.A
2019/2020
I.
JUDUL : SIFAT-SIFAT FISIK KIMIA
ORGANIK
II.
TUJUAN
PERCOBAAN :
Untuk mengetahui titik didih, titik leleh, densitas, indeks bias dan kelarutan
(Solubilitas) senyawa organik.
III.
Tinjauan
Teoritis :
Sifat fisik merupakan sifat yang dibahas
secara langsung, seperti wujud, bau, warna, kekerasan, dan sifat
kelarutan. Wujud zat pada suhu tertentu,
dapat dilihat dari titik leleh dan titik didihnya. Misalnya, komposisi air (H, O) memiliki titik
leleh 0 ° C dan titik didih 100 ° C.
Oleh karena itu, pada suhu ruangan (dihitung 25 ° C), Anda akan
menjumpai udara dalam bentuk cairan.
Pada zat yang berada pada suhu di bawah titik lelehnya (pada tekanan
tetap), akan berwujud padat pada suhu tersebut.
Jika berada pada titik di antara titik leleh dan titik didihnya, zat itu
akan berwujud cair. Pada suhu di atas
titik didihnya, zat itu akan berada dalam bentuk gas. Untuk mengetahui komposisi senyawa benzena
dan turunannya pada suhu ruangan, mengumpulkan data titik leleh dan titik didih
komposisi-komposisi tersebut . 1. sifat fisik: yaitu sifat-sifat yang timbul
karena keadaan fisik bahan. Beberapa
contoh dari ciri fisik ini adalah bentuk, ukuran, densitas, viskositas, sifat
pengemulsi, ketahanan, nilai enersi, kemampuan membentuk gel, dan lain-lain (Achadiyah, 2017).
Penentuan
sifat fisik dari suatu senyawa kimia sangat penting untuk berbagai keperluan
seperti karakterisasi senyawa atau membantu dalam hal penggunaan teknis di
laboratorium. Nilai sifat fisik pada awalnya harus ditentukan secara eksperimen
terhadap senyawa tersebut. Perkembangan lebih lanjut ditemukan pengetahuan
bahwa nilai sifat fisik suatu senyawa dapat diprediksikan dengan menggunakan
beberapa macam pendekatan. Pada prinsipnya rumus struktur molekul dari setiap
senyawa kimia mengandung gambaran yang mencerminkan informasi tentang sifat
kimia, sifat fisika atau aktivitas biologi dari senyawa tersebut. Rumus
struktur dapat menetapkan gambaran sifat dan aktivitas senyawa secara tidak
langsung, seperti kecepatan oksidasi senyawa, konstanta kesetimbangan, kecepatan
adsorbsi pada beberapa permukaan, derajat yang menghalangi formasi karat dalam
air laut pada kondisi yang ditetapkan dan juga untuk sifat-sifat fisika antara
lain titik didih, titik leleh dan kerapatan (Tahir dkk, 2002).
Indeks
bias suatu zat merupakan ukuran kelajuan cahaya di dalam zat cair dibanding
ketika di udara (Murdaka et al., 2010). Indeks bias merupakan salah satu dari
beberapa sifat optis yang penting dari medium. Dalam bidang kimia, pengukuran
terhadap indeks bias secara luas telah digunakan antara lain untuk mengetahui
konsentrasi larutan (Subedi et al., 2006) dan mengetahui komposisi bahan-bahan
penyusun larutan. Indeks bias juga dapat digunakan untuk mengetahui kualitas
suatu larutan. Penelitian yang dilakukan oleh Yunus et al. (2009) menunjukkan bahwa indeks bias
dapat digunakan untuk menentukan kemurnian dan kadaluarsa dari oli. Sedangkan
penelitian yang dilakukan Sutiah et al. (2008) menunjukkan bahwa indeks bias
dapat digunakan untuk menentukan kemurnian minyak goreng.
Indeks bias menyatakan perbandingan
(rasio) antara kelajuan cahaya di ruang hampa terhadap kelajuan cahaya di dalam
bahan. Cepat rambat gelombang cahaya di ruang hampa sebesar c. Jika melalui
suatu medium maka cahaya tersebut akan mengalami perubahan kecepatan menjadi v,
dimana besarnya v jauh lebih kecil dibandingkan cepat rambang cahaya di ruang
hampa c. Ketika cahaya merambat di dalam suatu bahan, kelajuannya akan turun
sebesar suatu faktor yang ditentukan oleh karakteristik bahan yang dinamakan
indeks bias (n). Pernyataan tersebut dapat dituliskan dalam persamaan
berikut:
(1) n
= Indeks Bias
(2) c
= laju cahaya dalam ruang hampa ( 3 x 108 m/s)
(3) v = kecepatan laju cahaya dalam medium (Zamroni, 2013).
IV.
Alat dan Bahan
A. Alat
No.
|
Nama
Alat
|
Ukuran
|
Jumlah
|
1.
|
Melting
Point Block
|
-
|
1 buah
|
2.
|
Destilator
Sederhana
|
-
|
-
|
3.
|
Piknometer
|
-
|
1 buah
|
4.
|
Refletometer
|
-
|
1 buah
|
5.
|
Pipet
Tetes
|
-
|
2 buah
|
B.
Bahan
No.
|
Nama
Bahan
|
R.Kimia
|
Konsentrasi
|
Wujud
|
Warna
|
Jumlah
|
1.
|
Sampel
zat organik
|
C3H6O3
|
-
|
Cair
|
Bening
|
Secukupnya
|
2.
|
Aquadest
|
H2O
|
-
|
Cair
|
Bening
|
Secukupnya
|
3.
|
Asam
Benzoat
|
C7H6O3
|
-
|
Padat
|
Putih
|
Secukupnya
|
4.
|
Urea
|
CH4H12O6
|
-
|
Padat
|
Keruh
|
Secukupnya
|
5.
|
Glukosa
|
C6H12O6
|
-
|
Cair
|
Keruh
|
Secukupnya
|
6.
|
Fruktosa
|
C6H12O6
|
-
|
Cair
|
Keruh
|
Secukupnya
|
7.
|
Sukrosa
|
C12H22011
|
-
|
Cair
|
Keruh
|
Secukupnya
|
8.
|
Asam
Sasilat
|
C7H6O3
|
-
|
Padat
|
Putih
|
Secukupnya
|
V.
Prosedur
Kerja
1.
Penentuan titik leleh
1.Ditimbang
dengan teliti

3.
P 3. Penetapan indeks bias
P 3. Penetapan indeks bias
1.Ditentukan indeks bias air dan
beebrapa sampel organik sesuai petunjuk instruktur

1.
TABEL
HASIL PERCOBAAN
NO
|
PERLAKUAN
|
HASIL
PENGAMATAN
|
1
|
Penentuan
titik leleh
·
Dimasukkan senyawa urea, asam salisilat dan asam
benzoat kedalam pipet kapiler.
·
Dimasukkan pipet kapiler yang telah diisi sampel,
kedalam melting point block.
·
Diamati titik lelehnya.
|
·
Senyawa urea
125 ◦C
·
Senyawa asam salisilat 155◦C
·
Senyawa asam benzoat 130 130◦C
|
2
|
Penetapan
densitas
·
Ditimbang piknometer kosong.
·
Ditimbang piknometer kosong + sukrosa
·
Ditimbang piknometer + fruktosa
·
Ditimbang piknometer + glikosa
·
Ditimbang piknometer + aquades.
|
·
Sukrosa + piknometer = 24,31gr
·
Fruktosa + piknometer = 24,40gr
·
Glukosa+ piknometer =25,61gr
·
Aquades+piknometer=24,01
|
3
|
Penentuan
indeks bias
·
Pada ujung refraktometer ditetesi air, ditutup,
kemudian dilihat Su dan Sn pada tempat
bercahaya.
·
Lakukan hal yang sama pada sampel fruktosa,
sukrosa, glikosa, dan aquades
|
·
Sukrosa+indeks bias=1097,2
·
Fruktosa+indek bias=1015,05
·
Glukosa+indeks bias=1027,162
·
Aquades+indeks bias=1002,001
|
VI.
Pembahasan
1. Penentuan Titik Leleh
a. Urea
Berdasarkan teori, dapat dijelaskan
bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair
pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat
cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada urea akan meleleh pad suhu
133℃.
Berdasarkan hasil praktikum yang
telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur
titik leleh dimana senyawa urea akan dikalibrasi dengan senyawa standar yang
nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik leleh yang
dilakukan 125℃.
Hal ini berbeda hasil teori dan
praktikan, dimana hasil praktik lebih rendah dibandingkan hasil teori. Hal ini
disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum.
Hal ini juga menadakan bahwa zat tersebut sudah tidak murni serta pemanasan
suhu yang tinggi dan tidak bertahap sehingga hasil tidaklah valid.
a. Asam
salisilat
Berdasarkan teori, dapat dijelaskan
bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair
pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat
cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada asam salisilat akan meleleh pada
suhu 191℃.
Berdasarkan hasil praktikum yang
telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur
titik leleh dimana senyawa asam salisilat akan dikalibrasi dengan senyawa
standar yang nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik
leleh yang dilakukan 155℃.
Hal ini berbeda hasil teori dan
praktikan, dimana hasil praktik lebih rendah dibandingkan hasil teori. Hal ini
disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum.
Hal ini juga menadakan bahwa zat tersebut sudah tidak murni serta pemanasan
suhu yang tinggi dan tidak bertahap sehingga hasil tidaklah valid.
b. Asam
benzoat
Berdasarkan teori, dapat dijelaskan
bahwa Titik leleh adalah temperatur dimana zat padat berubah menjadi zat cair
pada tekanan satu atmosfer. Titik leleh dapat terjadi ketika zat padat dan zat
cair berada dalam kesimbangan. Titik leleh pada asam benzoat akan meleleh pada
suhu 122℃.
Berdasarkan hasil praktikum yang
telah dilakukan dengan menggunakan melting point block sebagai alat pengukur
titik leleh dimana senyawa asam benzoat akan dikalibrasi dengan senyawa standar
yang nilai titik leleh nya berdekatan. Hasil yang didapat dari titik leleh yang
dilakukan 130℃.
Hal ini berbeda hasil teori dan
praktikan, dimana hasil praktik lebih tinggi dibandingkan hasil teori. Hal ini
disebabkan karena adanya kelayayan dan ketidaktelitian kami dalam praktikum.
Hal ini juga menadakan bahwa zat ini positif mengalami titik leleh.
2. Penetapan Densitas
Beradasarkan teori densitas adalah suatu
besaran kerapatan massa benda yang dinyatakan dalam berat benda per satuan
volume benda tersebut.
Rumus
densitas
+ 0,0012
Keterangan
:
G
= massa piknometer sesudah dimasukkan ke aquadest
G0
= massa piknometer sebelum dimasukkan aquadest atau sampel (kosong)
Vt
= volume piknometer yaitu 10
a. Pada
larutan fruktosa
=
+ 0,0012
= 24,40 g/cm³
b. Pada
larutan sukrosa
=
+ 0,0012
= 24,031g/cm³
c. Pada
larutan glukosa
=
+ 0,0012
=
24,04 g/cm³
d. Pada
akuades
=
+ 0,0012
=
24,041 g/cm³
Secara teori densitas pada sukrosa 1,59 gram. Densitas
pada fruktosa 1,69 gram. Densitas pada glukosa 1,56 gram. Densitas pada aquades
0,09797 gram. Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada larutan
sukrosa, fruktosa, glukosa dan aquadesdengan menggunakan piknometer dapat
dijlaskan bahwa:
3.
Penetapan
Indeks Bias
Berdasarkan teori indeks bias suatu
zat merupakan ukuran kelajuan cahaya di dalam zat cair dibanding ketika di
udara . Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat optis yang penting
dari medium. Dalam bidang kimia, pengukuran terhadap indeks bias secara luas
telah digunakan antara lain untuk mengetahui konsentrasi larutan.
Berdasarkan hasil praktikum yang
telah dilakukan dengan menggunakan rafraktometer yang diatas lensanya diberi
larutan sukrosa yaitu didapatkan hail 1097,2 pada larutan fruktosa 1015,05 pada
larutan glukosa 1027, 162 dan pada larutan akuades 1002,001.
VII.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa nilai ttik leleh
pada urea adalah 1250, pada asam salisilat 1550 dan pada
asam benzoat 1300
Pada
percobaan densitas piknometer yang diberi larutan sukrosa dididapatkan hasil
24, 31 g/ml, pada piknometer yang diberi larutan fruktosa didapatkan hasil 24,40 g/ml, pada piknometer
yang diberi larutan glukosa didapatkan hasil 24,04 g/ml dan pada piknometer
yang diberi akuades didapatkan hasil 24,01 g/ml.
Pada
percobaan indeks bias menggunakan refraktometer yang memperoleh hasil fruktosa
1015, 05, sukrosa 1097, 2, glukosa 1027, 16, dan akuades 1002, 001.
Daftar
Pustaka
Tahir, Iqmal, Karna Wijaya dan M.Utoro
Yahya. 2002. Hubungan Kuantitatif antara Struktur Molekul dan Titik Leleh dari
Berbagai Senyawa Organik. Indonesian
Journal of Chemistry. 2(2) : 83-90
Zamroni, Ahmad, 2013. Pengukuran Indeks
Bias Zat Cair Melalui Metode Pembiasan Menggunakan Plan Paralel. Jurnal Fisika. Vol.3 No.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar