Mata Kuliah : PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
JUDUL PRAKTIKUM
TERMOLOGI (PENGARUH PERUBAHAN SUHU PANAS MEDIA AIR TERHADAP MEMBUKA DAN MENUTUP OPERCULUM IKAN MAS)

OLEH :
NAMA : MASDINGIN
NAIPOSPOS
NIM :
0704171011
JURUSAN/PRODI : BIOLOGI
KELAS/SEMESTER : BIOLOGI-2/V (LIMA)
KELOMPOK : 5 (LIMA)
TGL PELAKSANAAN : 09 DESEMBER 2019
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
PRODI BIOLOGI
I.
JUDUL : TERMOLOGI (Pengaruh perubahan suhu panas media air terhadap membuka dan menutup
operculum ikan mas).
II.
TUJUAN PERCOBAAN : Mengetahui perubahan suhu panas media air
terhadap membuka dan menutup operculum ikan mas yang secara tidak langsung
ingin mengetahui laju pernafasan ikan tersebut.
III.
TINJAUAN TEORITIS : Termoregulasi adalah suatu mekanisme makhluk
hidup untuk mempertahankan suhu internal agar berada didalam kisaran yang dapat
ditolelir. Termoregulasi adalah proses yang terjadi pada hewan untuk mengatur
suhu tubuhnya supaya tetap konstan. Hewan yang mampu mempertahankan suhu
tubuhnya disebut homoiterm, sedangkan hewan yang tidak mampu mempertahankan
suhu tubuh disebut poikiloterm. Suhu tubuh pada kebanyakan hewan dipengaruhi
oleh suhu lingkungannya. Ada hewan yang dapat bertahan hidup pada kisaran suhu
2ºC, sementara hewan lainnya dapat hidup pada suhu 50ºC,misalnya hewan yang
hidup digurun (A’tourrohman, 2019).
Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu
tubuh, hewan dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu poikiloterm dan homoiterm.
Hewan poikiloterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya
selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan.
Sementara, hewan homoiterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu konstan atau
tidak berubah sekalipun suhu lingkungannya sangat berubah. (Isnaeni, 2016).
Ikan termasuk hewan yang bersifat poikiloterm,
serta selalu membutuhkan air untuk hidupnya, karena ikan merupakan hewan air
yang mengalami kehidupan sejak lahir atau menetas dari telurnya sampai akhir
hidupnya di air.selanjutnya dijelaskan bahwa air merupakan habitat ikan yang
erat kaitannya dengan pembentukan struktur tubuh ikan, proses pernafasan, cara
pergerakan, cara memperoleh makanan, reproduksi dan segala hal yang diperlukan
bagi ikan (Rizkiya, 2018).
Suhu mempunyai peranan penting dalam aktivitas
biologis organisme, baik hewan maupun tumbuhan. Ini terutama disebabkan karena
suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimiawi dalam tubuh dan sekaligus menentukan
kegiatan metabolik, misalnya dalam respirasi.
Ada beberapa alasan mengapa suhu tubuh hewan
harus dipertahankan supaya tetap konstan. Pertama, perubahan suhu tubuh dapat mempengaruhi
konformasi protein dan enzim. Apabila aktivitas enzim terganggu, maka aktivitas
sel dalam tubuh pun akan terganggu. Dengan demikian, perubahan suhu tubuh akan
mempengaruhi kecepatan reaksi metabolisme didalam sel (A’tourrohman, 2019).
Ikan beradaptasi sesuai lingkungan sekitarnya.
Salah satu adaptasi fisiologi ikan yaitu berhbuungan dengan sistem respirasi.pada
tahap respirasi, ditandai dengan gerakan operculumnya. Kenaikan suhu pada
lingkungan perairan ikan dapat menyebabkan kelarutan oksigen diperairan
tersebut akan menurun, sehingga kebutuhan organisme air terhadap oksigen
semakin bertambah. Dan dengan hal itu proses pergerakan operculum ikan
berlangsung semakin cepat. Sedangkan dengan penurunan suhu pada lingkungan
perairan ikan, hal tersebut dapat menyebabkan kelarutan oksigen dalam airnya
meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam air itu terhadap oksigen semakin
berkurang, dengan demikian hal ini menyebabkan proses pergerakan operculum
melambat (Soewolo,2000).
Proses respirasi ikan menggunakan pertukaran lawan
arus (countercurent exchange), pertukaran zat-zat atau panas diantara dua
cairan yang mengalir ke arah yang berlawanan. Pada insang ikan, proses ini memaksimalkan
efisiensi pertukaran gas. Sewaktu memasuki kapiler insang darah bertemu dengan
air yag sedang menempuh perjalanan melalui insang. Air ini tetap memiliki
PO2 yang lebih tinggi daripada darah yang datang, dan transfer Oksigen pun
berlangsung. Sewaktu darah meneruskan perjalanannya, PO2 nya terus
meningkat begitu pula dengan PO2 air yang di temuinya, karena setiap
posisi yang mengikuti perjalanan darah terkait dengan posisi sebelumnya di
dalam aliran air di dalam insang. Dengan demikian terdapat gradien tekanan
parsial yang mendukung difusi oksigen dari air ke darah di sepanjang kapiler (Campbell,
2004).
IV. ALAT DAN BAHAN
A. ALAT
No
|
Nama Alat
|
Jumlah
|
1.
|
Ember kecil
|
6 buah
|
2.
|
Termometer Hg
|
1 buah
|
3.
|
Wadah plastik
|
1 buah
|
4.
|
Timer/stopwatch/Hp
|
1 buah
|
B. BAHAN
No
|
Nama Bahan
|
Jumlah
|
1.
|
Ikan mas
|
6 ekor
|
2.
|
Stok air biasa
|
Secukupnya
|
3.
|
Stok air panas
|
Secukupnya
|
4.
|
Es batu
|
1 bungkus
|
V.
PROSEDUR KERJA
No.
|
Prosedur Kerja
|
1.
|
Disiapkan ember kecil untuk dijadikan wadah perendaman ikan
|
2.
|
Ember diisi dengan air biasa, kemudian diukur suhu awal pada air
tersebut.
|
3.
|
Pada pengujian air hangat, air biasa ditambah air panas dengan suhu yang
ditentukan, seperti 35ºC, 38ºC, dan 41ºC. Setiap pengulangan dilakukan
penambahan suhu air dengan penambahan
3ºC.
|
4.
|
Pada pengujian air dingin, air biasa ditambah air dingin dengan suhu yang
ditentukan, seperti 29ºC, 26ºC, dan 23ºC. Setiap pengulangan dilakukan
penambahan suhu air dengan pengurangan
3ºC.
|
5.
|
Setelah suhu ditentukan pada setiap ember yang diinginkan, maka
dimasukkan ikan satu persatu kedalam ember (wadah pengujian)
|
6.
|
Dihitung banyaknya aktifitas membuka dan menutup operculum yang dilakukan
oleh ikan selama 1 menit.
|
7.
|
Diamati setiap perubahan yang terjadi pada ikan disetiap pengulangan
dengan suhu yang berbeda-beda.
|
8.
|
Dicatat hasil pengamatan
|
VI. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
No
|
Gambar Perendaman Air Hangat
|
Keterangan
|
1.
|
|
Suhu air : 35 ºC
Pergerakan operculum : 101 kali membuka dan menutup
|
2.
|
|
Suhu air : 38 ºC
Pergerakan operculum : 95 kali membuka dan
menutup
|
3.
|
Suhu air : 41ºC
Pergerakan operculum : 75 kali membuka dan menutup
|
No
|
Gambar Perendaman Air Dingin
|
Keterangan
|
1.
|
Suhu air : 29ºC
Pergerakan operculum : 130 kali membuka dan menutup
|
|
2.
|
Suhu air : 26ºC
Pergerakan operculum : 142 kali membuka dan menutup
|
|
3.
|
Suhu air : 23ºC
Pergerakan operculum : 143 kali membuka dan menutup
|
PEMBAHASAN:
Pada percobaan pertama yakni dengan pengujian
pada air hangat dengan suhu yang berbeda – beda yaitu:
· Suhu awal 32ºC kemudian dinaikkan suhunya menjadi 35ºC. Dengan begitu, ada
penambahan atau peningkatan suhu pada lingkungan ikan. Setelah diamati selama 1
menit, didapat data bahwa aktivitas membuka dan menutupnya operculum ikan
terjadi sebanyak 101 kali.
· Setelah beberapa saat suhu air dinaikkan, Suhu kedua ini dinaikkan juga 3ºC
menjadi 38ºC. Dengan penambahan suhu lingkungan ikan tentunya akan berpengaruh
terhadap keaktifan kerja operculum ikan. Setelah diamati selama 1 menit,
didapat data bahwa aktivitas membuka dan menutup operculum ikan terjadi
sebanyak 95 kali.
· Setelah beberapa saat suhu kembali dinaikkan 3ºC , dimana suhu lingkungan
ikan menjadi 41ºC. hal tersebut
mengakibatkan aktifitas membuka dan menutupnya operculum cenderung mengalami
penurunan menjadi sebayak 94 kali dalam pengukuran selama 1 menit. Hal ini
disebabkan pada suhu tinggi kelarutan oksigen didalam air akan cenderung
menurun, dan pada kondisi seperti ini ikan akan berusaha mengimbangi situasi
tersebut dan cenderung mempertahankan hidupnya sehingga mengakibatkan peningkatan
laju metabolismenya. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa peristiwa kenaikan
suhu kamar cenderung menurunkan kadar oksigen dalam air yang membuat ikan akan
mengalami peningkatan pada laju metabolismenya.
Pada percobaan kedua yakni dengan pengujian pada air dingin dengan suhu yang berbeda-beda yaitu:
· Suhu awal 32ºC yang kemudian diturunkan suhunya menjadi 29ºC. dengan begitu
ada penurunan terhadap suhu lingkungan ikan. Setelah diamati selam 1 menit,
didapat data bahwa aktivitas membuka dan menutup pada operculum ikan sebanyak
130 kali.
· Setelah beberapa saat suhu air diturunkan lagi sebanyak 3ºC menjadi 26ºC.
Dengan penurunan suhu lingkungan ikan tentunya akan berpengaruh terhadap
keaktifan kerja operculum ikan. Setelah diamati selama 1 menit, didapat data
bahwa aktivitas membuka dan menutup operculum ikan mengalami peningkatan
yaitu sebanyak 142 kali.
· Setelah beberapa saat suhu diturunkan kembali sebanyak 3ºC , dimana suhu
lingkungan ikan menjadi 23ºC. Hal
tersebut mengakibatkan aktifitas membuka dan menutupnya operculum cenderung
mengalami peningkatan sebanyak 143 kali dalam pengukuran selama 1 menit. Hal
ini disebabkan pada suhu rendah kelarutan oksigen didalam air akan cenderung
meningkat, dan pada kondisi seperti ini ikan mengalami penurunan laju
metabolismenya. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa peristiwa penurunan suhu
kamar cenderung menaikkan kadar oksigen dalam air yang membuat ikan akan mengalami
penurunan pada laju metabolismenya.
VII. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang
dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada suhu yang berbeda-beda dapat
mempengaruhi aktivitas membuka dan menutup pada operculum ikan mas. Dari data
yang didapat kenaikan suhu membuat aktivitas operculum menjadi menurun,
sedangkan penurunan suhu membuat aktivitas operkulum menjadi meningkat.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
A’tourrohman, Muhammad. 2019. Termoregulasi,
Respirasi Dan Osmoregulasi Pada Ikan Mas. Walisongo : UIN Walisongo
Campbell,N.A.2004. Biologi Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
Isnaeni, Wiwi, 2016. Fisiologi Hewan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius
Rizkiya, Iffi, dkk. 2018. Termoregulasi
Pada Poikiloterm. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
Soewolo, 2000. Pengantar Fisiologi
Hewan. Jakarta : Depdiknas








Tidak ada komentar:
Posting Komentar